Type Here to Get Search Results !

BANJIR: TAKDIR ILAHI ATAU ULAH MANUSIA?

Banjir: Takdir Ilahi atau Ulah Manusia?

Oleh: Zumairi
(Alumni Ma'had Aly Malikussaleh/Mahasiswa Pasca Sarjana HKI UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe)

Setiap musim hujan tiba, banjir kembali menjadi cerita yang berulang. Rumah terendam, jalan lumpuh, dan aktivitas dan ekonomi warga terhenti. Dalam situasi seperti ini, sering kali muncul ungkapan “banjir merupakan takdir ilahi atau ujian dari Allah” yang harus diterima dengan kesabaran. Ungkapan tersebut membawa keamanan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan penting: benarkah banjir sepenuhnya takdir Allah, atau ada peran manusia di dalamnya?

Al-Qur’an memang mengajarkan manusia untuk bersabar atas musibah. Namun, Al-Qur’an pula memberi peringatan tegas bahwa kerusakan tidak terjadi tanpa sebab. Dalam Surah Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ayat ini secara jelas menempatkan manusia sebagai bagian yang ikut menghadirkan kerusakan, bukan sekadar korban.

Cara masyarakat memaknai banjir sangat menentukan pada sikap yang di  ambil setelahnya. Ketika banjir dipahami semata sebagai kehendak Allah, respons yang terjadi hanyalah sebatas pada doa dan kesabaran. Sikap ini tentu sangat mulia, tetapi menjadi permasalahan ketika menutup ruang evaluasi terhadap kebijakan pembangunan, alih fungsi lahan, dan pengelolaan lingkungan yang buruk. Atas nama takdir, kritik dilemahkan dan kesalahan struktural kerap diabaikan.

Jika ditelaah lebih jauh, banjir bukan sekadar peristiwa alam berupa hujan deras dan meluapnya sungai. Namun, ialah realitas yang terbentuk dari perjumpaan hukum alam dengan perbuatan manusia. Hujan turun sebagai ketentuan Allah, tetapi hilangnya daerah resapan air, penyempitan sungai, penggundulan hutan, serta pembangunan tanpa tata ruang yang bijak adalah hasil keputusan manusia. Secara hakikat, banjir hari ini tidak datang begitu saja, melainkan diciptakan secara perlahan oleh manusia.

Islam sendiri menegaskan bahwa manusia diberi amanah oleh Allah untuk menjaga bumi. Dalam Surah Al-A’raf ayat 56 disebutkan: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.” Ayat ini menegaskan bahwa merusak keseimbangan alam bukan hanya kesalahan ekologis, melainkan juga pelanggaran moral dan spiritual.

Rasulullah SAW pun mengingatkan tentang tanggung jawab manusia atas dampak perbuatannya. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, beliau bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Dalam konteks ini, manusia adalah pemimpin atas lingkungan tempat ia hidup. Ketika banjir terus berulang akibat kelalaian kolektif, maka pertanggungjawaban itu tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga ukhrawi.

Memahami banjir sebagai ulah manusia tidak berarti menafikan konsep takdir. Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah kepada Allah” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa keimanan tidak pernah mengajarkan seseorang untuk menjadi pasrah tanpa usaha. Tawakal justru menjadi lebih bermakna setelah ikhtiar dilakukan secara sungguh-sungguh.

Cara kita memaknai banjir berdampak langsung pada kebijakan publik. Jika banjir dianggap sepenuhnya dari takdir Allah, solusi yang muncul biasanya bersifat sementara seperti bantuan darurat dan normalisasi pascabencana. Namun, jika banjir dipahami sebagai konsekuensi dari relasi manusia dengan alam, maka tuntutan perubahan struktural menjadi keniscayaan: penataan tata ruang yang adil, perlindungan kawasan resapan, serta penegakan hukum lingkungan yang konsisten.

Pada akhirnya, pertanyaan “takdir ilahi atau ulah manusia?” bukanlah pilihan hitam-putih. Namun, menjadikan takdir sebagai satu-satunya penjelasan justru berisiko menghapus tanggung jawab atas perbuatan manusia. Banjir boleh jadi dimulai dari hujan yang turun dari langit, tetapi skala kerusakannya kerap ditentukan oleh apa yang manusia lakukan di bumi.

Mungkin sudah waktunya kita berkaca bahwa banjir bukan hanya sebagai ujian keimanan, tetapi juga sebagai cerminan moral. Sebab bisa jadi, banjir bukan sekadar peringatan dari Allah, melainkan akibat dari amanah yang kita abaikan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Cari Blog Ini