Type Here to Get Search Results !

ILMU, AGAMA, DAN FILSAFAT: Tiga Pilar Pencarian Kebenaran

 

ILMU, AGAMA, DAN FILSAFAT: Tiga Pilar Pencarian Kebenaran

Oleh: Rahmad Sanusi
(Alumni Ma'had Aly Malikussaleh/Mahasiswa Pasca Sarjana HKI UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe)

Di sepanjang sejarah perkembangan manusia, pencarian suatu kebenaran merupakan salah satu gagasan utama yang paling esensial dan tak berujung. Sejak awal peradaban, manusia telah mempertanyakan, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan kembali?. Ikhtihar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini melahirkan tiga pilar utama, yaitu ilmu, agama, dan filsafat. Ketiga pilar utama ini tidak saling berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan erat dalam membawa manusia menuju pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang makna kehidupan. Akan tetapi, koneksi antara ketiga pilar utama ini kerap kali dipandang serta dipahami secara terpisah, ilmu dianggap bersifat rasional dan empiris, agama dianggap bersifat tidak kritis dan religius, sedangkan filsafat dianggap bersifat hipotetis dan teoretis. Namun kenyataannya, bila ditelaah secara lebih mendalam, ketiga pilar utama ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengungkap kebenaran serta menuntun manusia untuk kehidupan yang lebih bermakna.

Ilmu lahir dari hasrat manusia untuk menelaah dunia secara sistematis dan objektif. Ilmu berikhtiar menjabarkan hukum-hukum yang mengatur alam semesta yang Allah telah tetapkan. Al-Qur’an sendiri kerap kali memotivasi manusia untuk berpikir dan meneliti. Dalam surah Al-‘Alaq ayat 1-5, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dimulai dengan kata iqra’, hal ini menunjukan bahwa ilmu adalah dasar peradaban. Ilmu mengantarkan manusia keahlian dalam menguasai alam, melahirkan teknologi, serta memperbahrui kualitas hidup. Tetapi, jika tersisih dari norma dan etika, ilmu dapat berubah menjadi pedang bermata dua. Oleh karena itu, ilmu bergantung pada prosedur dari dua pilar utama lainnya, yaitu agama dan filsafat.

Agama menyalurkan asas moral, makna kehidupan, dan pedoman perilaku, ia menjabarkan tujuan realitas manusia serta haluan yang harus ditempuh agar hidup dapat bernilai. Dalam keadaan ini, agama bukan semata-mata sistem kepercayaan, akan tetapi juga sumber nilai serta tujuan hidup manusia. Agama menegaskan bahwa kebenaran paling tinggi bukan hanya buah hasil dari logika semata-mata, akan tetapi juga hasil wahyu yang Allah turunkan kepada manusia. Allah dalam Al-Qur’an menyatakan, misalnya, Allah mengajak manusia untuk tafakkur (berpikir), tadabbur (merenungi), serta ta’akkul (menggunakan akal) supaya mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah di bumi yang fana. Hal ini, menunjukkan bahwa berfikir dan merenung merupakan sebagian dari ibadah serta menunjukan bahwa agama tidak menyanggah akal dan ilmu, melainkan menempatkannya dalam bingkai keimanan.

Namun demikian, agama acap kali kerilu dipahami, segelintir orang memaknai agama dengan penafsiran tertentu dan menolak keras temuan-temuan ilmiah yang bertolak belakang dengan keyakinan tradisional. Sedangkan sebagian lain agama disingkirkan ranah intelektual serta mengalokasikannya sekedar urusan pribadi. Kedua kalangan ini sama-sama keliru dalam memaknai agama, kerena menyangkal sifat integral agama dalam kapasitas sumber nilai dan petunjuk hidup. Sejatinya, agama berperan penting sebagai panduan moral yanng membina ilmu dan filsafat agar tidak kehilangan arah. Oleh sebab demikian, agama menopang keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas.

Filsafat merupakan langkah rasional untuk mencari dimensi yang paling dalam dari keberadaan. Filsafat menyelidiki mengenai hakikat pengetahuan, kebenaran, makna, dan tujuan hidup manusia. Bila ilmu menuntun manusia untuk meniliti “bagaimana” sesuatu terjadi dan agama menuntun untuk menjawab “mengapa” manusia hidup, maka filsafat berusaha memediasi keduanya dengan pertanyaan “apa makna” dari semuanya ini. Dalam kajian para filsuf, seperti Aristoteles, Socrates, Plato, hingga Al-Farabi dan Ibn Rushd, filsafat berfungsi sebagai instrumen dialog antara akal dan wahyu. Filsafat mengarahkan manusia supaya berpikir kritis, tidak semata-mata menerima ideologi atau realitas dengan tanpa analisis yang mendalam.

Bagi Al-Farabi, filsafat merupakan instrumen untuk menyinkronkan akal dengan syari’at. Al-Farabi percaya bahwa kebenaran wahyu dan kebenaran rasional tidak akan saling bertolak belakang, kerena keduanya datang dari sumber yang sama, yakni Allah. Ibn Sina lebih menekankan bahwa akal adalah rahmat Allah yang perlu dipergunakan untuk mengetahui realitas yang sebenarnya. Sedangkan Al-Ghazali, yang dikenal kritis terhadap para filsuf, tetap menerapkan sistem rasional dalam mempertahankan ajaran agama. Al-Ghazali pernah berkata bahwa orang yang tidak mempelajari filsafat, maka ilmunya tidak ditsiqahkan. Hal ini membuktikan bahwa filsafat dalam Islam bukan untuk menempati kedudukan wahyu, melainkan menafsirkan dan memperdalamnya.

Ilmu, agama, dan filsafat bukanlah tiga pilar yang terpisah, melainkan tiga dimensi dari satu gerak pencarian kebenaran yang saling melengkapi. Ilmu  memberi pengetahuan faktual, agama memberi makna dan arah moral, sedangkan filsafat memberi refleksi dan kedalaman. Bila ketiganya disinergikan, maka lahirlah manusia yang utuh, cerdas secara intelektual, jernih secara spiritual, serta bijak secara moral dan manusia akan mencapai keseimbangan antara akal, hati, dan jiwa.

Dunia hari ini mengalami kemajuan teknologi luar biasa, akan tetapi juga krisis moral dan spiritual yang mendalam. Manusia semakin mampu menaklukkan alam, tetapi manusia tidak menemukan arti kehidupan. Hal ini pada dasarnya berakar dari hilangnya keseimbangan antara tiga pilar ini. Oleh sebab ini, memerlukan penyeimbangan kembali antara ketiga pilar ini. Ilmu harus kembali pada dimensi etikanya, agama harus terbuka terhadap dinamika intelektual, sedangkan filsafat harus membumi agar relevan dengan realitas sosial. Pemulihan hubungan ketiga pilar ini merupakan kebutuhan eksistensial bagi manusia umumnya. Ilmu mengajarkan kita tentang dunia yang lahir, agama mengarahkan kita pada yang gaib, sedangkan filsafat mengajarkan kita cara memahami hubungan keduanya secara utuh. Ketiganya adalah rute menuju satu tujuan, yakni kebijaksaan (pengetahuan yang tidak hanya benar secara logis, melainkan juga baik secara moral serta indah secara spiritual).

 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Cari Blog Ini