Ilmu (scientia) pada hakikatnya adalah upaya sistematis dan rasional manusia untuk memahami realitas, baik alam, sosial, maupun kemanusiaan. Dalam tradisi Islam, konsep ‘ilm memiliki makna yang luas, tidak terbatas pada pengetahuan empiris, tetapi juga mencakup kesadaran spiritual dan etis. Al-Qur’an memuliakan orang-orang berilmu dan menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mengenal kebesaran Tuhan melalui ciptaan-Nya. Dengan demikian, ilmu dalam Islam tidak pernah terlepas dari dimensi nilai dan tanggung jawab moral.
Namun, dalam paradigma modern yang dipengaruhi oleh positivisme dan rasionalisme ekstrem, ilmu cenderung direduksi menjadi pengetahuan empiris yang netral nilai. Sejak era Pencerahan, ilmu berkembang dengan menekankan observasi, eksperimentasi, dan rasionalitas teknis, tetapi sekaligus meminggirkan dimensi transendental. Akibatnya, ilmu memang menghasilkan kemajuan luar biasa, tetapi sering kehilangan orientasi etis. Tanpa panduan nilai, ilmu dapat berubah menjadi kekuatan yang merusak, baik melalui eksploitasi alam, senjata pemusnah massal, maupun dominasi teknologi atas martabat manusia.
Di sinilah agama memainkan peran fundamental sebagai fondasi etis dan transendental peradaban. Agama (ad-dīn) memberikan kerangka nilai yang menuntun manusia dalam menggunakan ilmu dan teknologi secara bertanggung jawab. Dalam Islam, agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membentuk etika sosial, intelektual, dan kemanusiaan. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa agama dan ilmu tidak pernah berada dalam relasi antagonistik. Tokoh-tokoh besar seperti Ibn Sīnā, al-Fārābī, al-Ghazālī, dan Ibn Rushd justru memadukan rasionalitas ilmiah dengan keyakinan teologis.
Pandangan modern sekuler yang memisahkan fakta dari nilai sering kali menempatkan agama sebagai penghambat kemajuan. Padahal, problem utama bukanlah agama itu sendiri, melainkan cara memahami dan menghayatinya. Ketika ilmu berkembang tanpa orientasi nilai, dampak destruktifnya justru semakin nyata. Oleh karena itu, agama perlu dihadirkan kembali sebagai sumber etika yang memberi arah dan makna bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Sementara itu, filsafat berfungsi sebagai ruang refleksi kritis yang menjembatani ilmu dan agama. Filsafat (philosophia) adalah cinta akan kebijaksanaan, sebuah usaha rasional untuk memahami hakikat kebenaran, pengetahuan, dan tujuan hidup manusia. Dalam tradisi Islam, konsep al-hikmah menegaskan bahwa kebijaksanaan merupakan sintesis antara akal dan wahyu. Filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering kali tidak disentuh oleh sains murni maupun dogma keagamaan yang kaku.
Melalui filsafat, manusia diajak untuk merenungkan makna di balik pengetahuan empiris dan nilai-nilai normatif. Tokoh seperti al-Fārābī melihat filsafat sebagai jalan menuju kebahagiaan tertinggi, sementara al-Ghazālī menekankan pentingnya harmoni antara akal dan wahyu agar kebenaran tidak terfragmentasi. Dengan demikian, filsafat bukan lawan agama, melainkan mitra dialog yang memperdalam pemahaman manusia tentang realitas dan eksistensi.
Peradaban yang benar-benar maju menuntut sinergi antara ilmu, agama, dan filsafat. Ilmu menyediakan kebenaran empiris, agama memberi arah normatif dan transendental, sementara filsafat menawarkan refleksi rasional dan kritis. Ketika ketiganya berjalan bersama, manusia dapat memahami realitas secara utuh tidak hanya apa yang ada, tetapi juga mengapa dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.
Sejarah peradaban Islam klasik, seperti yang tercermin dalam Bayt al-Hikmah di Baghdad, menunjukkan bahwa integrasi ketiga pilar ini mampu melahirkan kemajuan ilmu sekaligus kedalaman spiritual. Sayangnya, dunia modern justru mengalami fragmentasi pengetahuan: ilmu kehilangan moralitas, agama terjebak dalam formalisme, dan filsafat terperosok dalam relativisme. Kondisi ini memperparah krisis makna yang dihadapi manusia modern, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan bioteknologi.
Oleh karena itu, membangun peradaban masa depan menuntut paradigma integratif yang menempatkan ilmu, agama, dan filsafat dalam dialog yang konstruktif. Lembaga pendidikan, khususnya universitas, perlu mengembangkan pendekatan interdisipliner yang tidak hanya mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga arif, bermoral, dan memiliki kedalaman spiritual. Dengan sinergi ketiga pilar ini, peradaban manusia dapat bergerak menuju kemajuan yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga adil, bermakna, dan berperikemanusiaan.